Motivasi

Selasa, Oktober 14, 2008

Asuransi Terbaik - Media Indonesia

Memilih sebuah perusahaan asuransi yang baik memang tidak mudah. Apalagi di tengah persaingan yang ketat di antara perusahaan asuransi seperti sekarang ini.

Meski demikian, ada beberapa faktor yang seharusnya dipertimbangkan dalam proses memilih suatu perusahaan asuransi terutama untuk asuransi jiwa dan kerugian.

Hal yang perlu diingat bahwa dalam memilih perusahaan asuransi swasta, maka yang harus dipertimbangkan secara umum adalah tiga faktor : Pertama, kekuatan keuangan (security). Kedua, jasa (service). Dan ketiga, biaya (cost).

Kekuatan Keuangan (Security)

Kekuatan keuangan asuransi menyangkut kemampuan keuangan perusahaan tersebut untuk memenuhi janjinya jika keadaan membutuhkan.

Dalam menilai kekuatan keuangan ini ada beberapa tolok ukur yang perlu diperhatikan.

Aset dan liabilitas. Ini bisa dilihat dari laporan neraca keuangan yang diumumkan di koran. Lihat juga, apakah investasinya ditanam pada current atau longterm. Dari segi liabilitas (kemampuan melunasi kewajiban) akan terlihat di neraca, bagaimana utangnya pada reasuradur, bagaimana dia memenuhi kewajiban membayar klaim, dan lain sebagainya.

Indikator liabilitas antara lain net equity (modal sendiri) dibagi net premium (premi bersih) minimal 50%. Modal sendiri dibagi gross premium (premi kotor) minimal 20%. Batas tingkat solvabilitasnya, yang terlihat dari modal sendiri dibagi premi bersih minimal 10% dan dana investasi dibagi cadangan teknik minimal 100%.

Underwriting Policy. Di neraca dan laporan tahunan akan terlihat bahwa asuransinya masih untung, atau mengalami pertumbuhan laba. Ini berarti underwiting policynya bagus.

Underwriter. Apakah perusahaan Asuransi memiliki tenaga-tenaga yang berkualitas atau tidak. Itu diketahui dari profil perusahaan yang memuat para underwriternya.

Jasa (Service)

Jasa (service) merupakan cermin sejauh mana sumber daya manusia di perusahaan tersebut berkualitas atau tidak. Apalagi, perusahaan asuransi adalah menjual jasa, maka layanan prima merupakan kunci utama. Misalnya, sejauh mana kecepatan pelayanan baik dalam menerbitkan polis apalagi dalam pembayaran santunan atau klaim. Selain itu, soal pelayanan sebenarnya bisa dirasakan sendiri oleh nasabah. Apakah perusahaan asuransi ini sudah betul-betul memberikan pelayanan terbaik buat nasabahnya.

Dalam hubungan ini perlu juga dipertanyakan, apakah perusahaan asuransi ini mereasuransikan pada reasuransi yang keamanannya kelas satu. Ini bisa dilihat dari laporan tahunannya. Hal ini penting diperhatikan, karena bila perusahaan tersebut tidak diback up oleh reasuransi, besar kemungkinan perusahaan tersebut bersifat spekulatif dalam menerima premi.

Biaya (Cost)

Masalah biaya adalah seberapa besar biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi dalam operasionalnya. Kalau lebih besar biaya dibanding pemasukan, maka jelas perusahaan tersebut tidak efisien. Kalau sudah tidak efisien, maka ujung-ujungnya akan mengalami kerugian. Dan kalau terus-menerus rugi, pasti tidak sehat.

Dalam hubungan ini bisa juga dilihat harga preminya. Bandingkan harga premi asuransi yang sama dengan asuransi yang lain. Mana yang kualitasnya betul-betul baik.

Dewasa ini pemerintah sudah menentukan salah satu tolok ukur kesehatan asuransi (bukan satu-satunya), yaitu melalui mekanime RBC (Risk Base Capital). Kalau angka RBC-nya besar, ini berarti perusahaan tersebut dinilai dalam kondisi baik. Tetapi kita tidak boleh terpaku semata-mata dengan angka RBC. Sebab, bisa pula terjadi perusahaan besar yang sedang melakukan ekspansi besar-besaran seperti membuka banyak kantor cabang, maka angka RBC-nya pasti akan kecil.

Sebaliknya, ada perusahaan asuransi yang kecil tetapi tidak pernah melakukan ekspansi, maka angka RBC-nya mungkin jauh lebih besar.

Jadi, angka RBC tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya ukuran, apakah perusahaan asuransi itu sehat atau tidak.

Dalam hal ini yang juga patut diperhatikan adalah kinerja perusahaan tersebut dalam dua atau tiga tahun terakhir. Seberapa besar keuntungan yang diperoleh tiap tahun, berapa besar premi bruto yang mereka terima tiap tahun, seberapa besar penambahan modal dan aset setiap tahun.

Dan yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana perilaku manajemen perusahaan tersebut selama ini. Adakah manajemen perusahaan itu selama ini ingkar janji? Pernahkah manajemen perusahaan ini mengalami wanprestasi, dan lain sebagainya.

Dikutip dari Media Indonesia

Asuransi Terbaik Versi Infobank

Jakarta - Majalah InfoBank kembali merilis rating atas 130 Asuransi di Indonesia. Pemeringkatan itu didasarkan pada laporan keuangan publikasi dengan 10 kriteria.

Sepuluh kriteria itu adalah RBC, rasio likuiditas, rasio cadangan teknis dengan aktiva lancar, rasio cadangan premi dengan premi retensi sendiri, perubahan pendapatan premi bruto, rasio premi retensi sendiri dengan modal sendiri, rasio investasi dengan cadangan teknis ditambah utang klaim, rasio beban klaim neto dengan premi neto, rasio beban pendapatan dengan pendapatan, dan rasio laba dengan rata-rata modal sendiri.

Demikian disampaikan oleh Direktur Biro Riset InfoBank Eko B. Supriyanto dalam acara Rating 130 Asuransi Tahun 2007 Versi InfoBank di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Selas (3/6/2007).

Berdasarkan kriteria tersebut, maka perusahaan yang mendapat predikat “sangat bagus” dengan premi bruto Rp 1 triliun ke atas antara lain pertama PT Prudential Life Insurance, kedua Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, dan ketiga PT Asuransi Jiwa Sinarmas.

Lalu untuk perusahaan asuransi jiwa dengan premi bruto Rp 200 miliar sampai Rp 1 triliun dengan predikat “sangat bagus” adalah pertama Asuransi Cigna, kedua AXA Financial Indonesia dan ketiga Astra CMG Life.

“Untuk yang premi brutonya di bawah Rp 200 miliar dan mendapat predikat “sangat bagus” adalah pertama Asuransi Takaful Keluarga, kedua Asuransi Jiwa Bumiarta Reksatama dan ketiga UOB Life-Sun Assurance,” tambah Eko.

Sementara itu, rating untuk perusahaan asuransi umum dengan premi Rp 200 miliar ke atas dan berpredikat “sangat bagus” antara lain pertama Asuransi Adira Dinamika, Zurich Insurance Indonesia, dan Asuransi Jasaraharja Putera.

Sedangkan yang premi brutonya Rp 50 miliar sampai dengan di bawah Rp 200 miliar dengan predikat “sangat bagus” adalah Tugu Kresna Pratama, Asuransi Samsung Tugu dan Asuransi Permata Nipponkoa Indonesia.

“Untuk yang premi brutonya di bawah Rp 50 miliar dan preikat “sangat bagus” antara lain Asuransi Bhakti Bhayangkara, Arthagraha General Insurance dan Asuransi AIOI Indonesia,” tuturnya.

Dalam rating ini hanya ada satu perusahaan asuransi jiwa yang berpredikat tidak bagus, dan ada 9 perusahaan asuransi umum yang berpredikat tidak bagus.

“Tapi ada 3 perusahaan asuransi jiwa yang tidak mengeluarkan laporan keuangannya, sementara 5 perusahaan asuransi umum yang tidak mengeluarkan laporan keuangannya atau laporan keuangannya tidak lengkap,” tambahnya.

Menurutnya sebenarnya dari sisi portofolio investasi, perusahaan-perusahaan asuransi di Indonesia sudah semakin baik dalam strategi yang dipilihnya.

“Investasi dalam deposito oleh perusahaan asuransi sebesar 20,53 persen, lebih kecil dari investasi dalam saham dan obligasi yang sebesar 23,47 persen serta dalam surat berharga yang diterbitkan atau dijamin pemerintah sebesar 23,25 persen,” jelasnya.

Sedangkan reksadana mendapat kucuran investasi asuransi sebesar 13,9 persen, disusul oleh penyertaan langsung sebesar 3,3 persen. (dnl/qom)

Wahyu Daniel - detikfinance

Kamis, Oktober 09, 2008

Old Time out? Perlukah? Constantly?

What do you do when the salary is at hand? Whether to buy the
latest mobile phone output? Changing clothes that work is too often
used? Or try a culinary tour with our colleagues? Have you ever think
you set aside some money for the elderly? If you want to enjoy the
elderly without any financial difficulties, you should prepare for old
age savings consistently. And start now.
Productive working age at the end, you enter the age of 55 years.
Unfortunately, the level of public awareness of Indonesia (office
worker) in preparing for old age savings are still low. This is
evidenced by research conducted by a research partner with
Citibank Citigroup Asia-Pacific, CxC Consulting, the end of last year
to 400 respondents in the various regions in Indonesia. The result,
approximately 3% do not know whether their savings or not enough.
58% have admitted to the limited information about financial
management. The rest, as much as 39% rely on financial assistance
from the children.
According to Joannes Widjajanto CFP, financial planner from Shildt
Financial Planning, Jakarta, you must be out with a more tactful.
There are several sources of savings the old days can be used,
among others:
Jamsostek and money Pesangon
If you Jamsostek participants (Employee Social Security), each
month your salary will be cut by 2%. In addition, the money can also
be used Pesangon savings for old age. The amount depends on the
company.
Financial Institutions Pension Fund (DPLK)
Pension funds from financial institutions such as banks could be a
choice. How to make money with the amount already agreed upon.
Initially, the maximum deposit, but only 20% since 2005, the Ministry
of Finance issued a policy that allows depositors to make 100% of
salary.
Health Insurance
Generally, conditions of health in old age will be accompanied by a
sharp decline with several health problems. For that, you can choose
health insurance as a savings alternative. Keep in mind, have the
same health insurance means that the switch cost you must remove,
become dependent party insurance. And the more you follow the
early insurance, the small premium you must pay.

Investment
One of the areas that tend to dilirik and diminatai is in the field of
investment properties such as houses or kontrakan costs.
Reksanadana or investment that tends to form more profitable than
the deposits affected by taxes and inflation.
Businessman / Business
If this alternative is selected, you should still prepare for old age
savings.

Send your questions and email to mds@kobexindo.com to consult about the solutions more appropriate for old days you

Saving Now or Later sorry

Financial welfare are fully up to you. As ungakapan a book published
by-Cultur Kit Group, entitled the Save or Sorry! : Save or regret.
Have more financial rights or is the choice of each individual, the key
is located on the lifestyle and how to manage the finances.
Like a farmer who suddenly find the money Rp.1 billion, according to
you, if you want money to farmers whether you? the answer certainly
diverse, but the only one who can make someone become rich, the
learner-savings and investment.

Here is an overview illustration of life:
when you work, and provide a number of insurance companies to
protect their health you (of course this is only while you are still
working in the company), you save little by little your income.
When your retirement, your allowance money and means there is no
more after this infusion. and you really live from the money or funds
from the pension.
But in-your retirement age, thus vulnerable to various diseases and
eventually you become a routine to go to the hospital, consequently
savings and pension funds you out, because the company is
not providing insurance again because you have not worked in the
company.

Try and imagine, if this situation should happen to you,
If you want to ask and consult about the solutions to your old days,
I can contact you via email in-address mds@kobexindo.com I will
provide suggestions and solutions for you based on the results of
those who have succeeded through the day with a happy fathers.